kejujuran itu ternyata
menyakitkan
maghrib kemarin itu..
Hujan menyirami bumi dari sore hari…
Aku udah janji untuk melakukan
"transaksi" dengan dia.
(transaksi kue titipan nya
maksudku) ku telpon untuk Konfirmasi kedatangannya..
ada terlintas sedikit keraguan di
suaranya untuk mampir ke rumahku..
dia bilang, kalau sudah sampai
akan Contact aku..
hatiku bertanya.. mengapa dia tak
ketuk pintu dulu dan masuk saja ke rumah?
Ku pikir mungkin dia tak punya banyak waktu
karena mau bertugas lagi..
ya sudah pikirku.. aku siap2, mandi and sholat
dulu..
Waktu aku di kamar.. sebuah
panggilan masuk di LCD HP ku
Ternyata Dia… kenapa Dia masih
menunggu di mobilnya..?
tidak singgah barang sejenak..? (ada keanehan
terlintas di pikiran ku)
ah.. sudahlah.. ku ambil payung dan titipan
itu lalu ku hampiri dia..
setelah transaksi selesai..
tentu saja obrolan antara kami berlangsung…
aku dengan daster putih pink ku
sementara dia masih di belakang stir dengan jendela separuh terbuka..
entah siapa yang memulai..
tiba2 kita berbincang tentang
kasus buku musik ku yang hilang dan alasan nya tidak mampir..
ternyata dia merasa malu dan bersalah pada
mama ku sudah menghilangkan buku musik itu…
dengan polosnya aku mengatakan bahwa mama
sangat marah padanya..
dan mengatakan kata2 yang gak
enak tentang dia…
(kejujuran yang tidak pada
tempatnya)
Aku menyesal telah berkata jujur
kali ini padanya.. karena aku sudah menyakiti hatinya..
kulihat matanya berkaca-kaca…
dan tiba2..dia berkata.. "ya
sudah.. bye-bye Ai…"
Tuhanku…kenapa ini yang
terjadi…??
ku jelaskan maksud perkataan ku
tadi… ku harap dia mengerti atas sikap dan perkataan mama itu..
kujelaskan latar belakang sikap
mama itu.
dan ternyata syukurlah akhirnya
Dia mengerti..
dan akhirnya dia pergi ke tempat tugasnya..
(ku doakan dia selamat di jalan karena ku tahu.. hujan deras membuat jalanan licin dan aku tahu.. kata2ku tadi membuatnya sedih..)
tapi aku merasa perasaan ku tetap tidak nyaman..
ku Sms dia.. ku pintakan maaf atas keterusterangan ku tadi..
juga maaf untuk mama tentunya..
ku minta dia untuk jangan pernah tinggalkan ku..
ah.. hatiku semakin bersalah saat dia balas pesan ku dengan mengatakan..
"jangan Khawatir.. aku OK kok sekarang.."
entah kenapa.. jadinya aku merasa menyiksa diri sendiri..
Ah.. tangis itu akhirnya datang.. kristal2 bening mengalir dari bola mataku..
Brownies.. si boneka beruang.. maafkan aku kali ini telah membasahi lagi bulu coklatmu itu..
ku katakan kesedihan ku padanya..
dia mengatakan "kenapa kamu yang sedih..? o lah.. jangan nagis honey.., I’m ok2 aja kok.. aku tak akan meninggalkanmu"
ku balas pesannya…
"gak apa2.. menangisi kebodohan diri sendiri agar lain waktu tak ku ulangi lagi..jangan khawatir.. i’ll try to
"
Tuhan ku.. terima kasih telah menganugrahkan kesabaran dan rasa empati yang dalam padanya…
semoga kebodohan ini tak berulang lagi…
mungkin sedikit tambahan Copy paste dari Blog Fira ini bisa menggambarkan apa yang ku rasakan atas apa yang telah terjadi antara aku dan Dia..
Bagaimana rasanya kehilangan?
Atau ada yang hilang?
Atau aku sendiri yang menghilang?
Saat aku ingin sendiri, terkadang aku menghilang
dari orang-orang (tidak balas SMS atau balas seadanya) dan melarikan diri ke pekerjaan
Terkadang aku bertanya-tanya, sampai kapan?
Akhirnya pertanyaan itu terjawab sendiri ketika aku merasa ada yang hilang.
Dalam kesendirian, terdapat kehampaan.
Saat kehilangan, sesuatu atau seseorang bagaimana rasanya?
Tentu saja ada yang hilang. Kalau itu benda, tentu saja kebiasaan. Untuk melihat, memakai, atau mengetahui di mana letaknya.
Jika itu orang, tetap juga kebiasaan. Dan juga kebersamaan.
Rasa kehilangan orang, lebih jauh menyiksa dan berjalan lamban.
Bisakah semua kembali? Terkadang ya, terkadang tidak, terkadang setengah.
Lihat halaman ini, kehilangan gambarnya.
Aku tidak meletakkannya. Dibanding deretan jurnal yang lain, akan ada kejanggalan.
Kenapa menghilang?
Kalau benda, bisa jadi lupa, bisa jadi teledor, bisa jadi direbut orang.
Kalau orang?
Bisa jadi sama: lupa, teledor (=ditelantarkan), direbut orang. Dan oh…takdir? Jika hilang selamanya.
(Aku
sedang merasa kehilangan. Seseorang. Dan KAMU yang membaca ini tahu.
Nggak R, sorry bukan kamu. Kan kamu sering "menghilang terbang" lalu
kembali.)
(Setiap orang akan "hilang", bahkan untuk selamanya. Tapi selama kita hidup, bisakah kamu memberi kabar barang sebentar?)
(Jangan lama-lama menghilang, kamu termasuk orang yang kusayang.)