Ratatouille, Mancik Surau dan Yekusa.
Temans, Mari kuperkenalkan pada adikku yang paling bontot. Namanya Meifi,entah kenapa panggilannya selalu berubah-ubah dari Meifi menjadi Fie,pie,epi, Wfhhiee, sampai Yeye, dan terakhir menjadi official panggilanku padanya; Yekusa (Yeye yang kusayangi).
Apa Hubungan antara Ratatouille kartun tikus super chef itu dengan Mancik surau alias Tikus hitam segede Bagong penghuni selokan surau di belakang rumahku dengan Yekusa? Mari kita simak ceritanya.
Suatu Malam Yekusa pergi ke ruang makan, dengan kagetnya didapati seekor Mancik Surau sedang ajeup-ajeup di sekitar tempat penyimpanan beras. Yep, tempat beras ada di ruang makan.
Menatap dengan tidak percaya serasa mimpi, Yekusa langsung teriak dengan kencangnya. Kali ini ditambahkan dengan pekikan dan deraian air mata. Belum cukup penderitaannya tangan Yekusa langsung kaku, perutnya sakit.
Ya ampuuuun…sebegitukah efek yang ditimbulkan seekor mancik surau pada seorang yekusa? Oh nyooo..aku juga ketakutan melihat reaksi Yekusa. Langsunglah Yekusa dibawa ke rumah Sakit karena perutnya tetap sakit dan tangannya bertambah kaku.
Diagnosa dokter mengatakan kalau yekusa terkena Usus buntu. Wow, aku salut banget ama Mancik surau itu. Ok, biar lebih enaknya si Mancik surau kita panggil ManSur aja. Mansur begitu hebat dan cepat untuk membuat dokter membuat sebuah diagnosa yang sungguh berlawanan dari yang seharusnya diberikan yaitu Usus buntu. Padahal seharusnya eksistensi seekor Mansur menimbulkan dampak Thypus bukan? Hai, semua yang baca berikan applause buat Mansur yang telah memberikan suatu dampak penyakit jenis baru akan kehadirannya.
Beres Operasi Usus Buntu, Yekusa kembali melanglang buana ke dapur. Mungkin ini yang dinamakan jodoh. Yekusa bertemu kembali dengan belahan hatinya yang telah hilang dulu, yang sekarang telah kembali pulang (apaan sih, Ai lo kate lagu Kangen Band ituww? Hueeeks.. Prettt!!).Di Dapur, Mansur sedang asyik megal megol dengan imut sambil ditatap dengan penuh perasaan yang tak terkatakan oleh Yekusa. Menemukan kembali jiwanya yang telah hilang; Yekusa dengan volume terbesarnya langsung menjerit ”Tikuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuussss,Huuuuuhuhuhuhus” lalu Yekusa berlari ke tempat tidur dan melepaskan hasrat tangis yang tertundanya disana.
Berbicara tentang Mansur, Temanku nyaris membuat suatu masakan dari bahan seekor Mansur plus kulit dan bulu-bulunya. Ceritanya Mansur jalan santai di dekat kuali berisi minyak panas. Temanku yang kaget langsung mengambil sapu dan Mansur pun menyelamatkan diri, terjun indah gaya bebas ke atas kolam minyak panas dikuali tadi. Temanku langsung siaga mengambil sodet dan menambah nyala apinya agar makin besar. Hari itu menjadi hari paling Naas dari kehidupan seekor Mansur, hari paling menjijikkan bagi temanku dan hari yang tepat untuk menyatakan selamat tinggal bagi kuali berisi minyak panas beserta sodet.
Penderitaan Yekusa masih belum berakhir temans. Para sepupu Yekusa sepakat untuk menghilangkan trauma Mansur dari kehidupan Yekusa yang malang ini. Suatu malam di bulan Ramadhan saat para sepupu berkumpul di putarlah film yang sungguh dahsyat! Menggetarkan nurani, mengasah logika dan menggoncangkan iman (Da Vinci Code aja lewaaat) Film Ratatouille yang sungguh dahsyat itu diputar hanya untuk seorang Yekusa sebagai pemegang nomor bangku VVIP di bioskop mini ini.
Bagaimanakah nasib Yekusa selama menonton film tentang kerabat ManSur ini? Sungguh tak terduga tak dinyana saudara-saudara. Sepanjang pemutaran film Rattaouille, Yekusa sungguh menikmati penampilan Remy si Tikus. Bahkan adegan Remy dan kroninya Bedhol desa juga tak membuat Yekusa bergidik, malah menatap mesra ke layar monitor.
Pesan moralnya adalah, Bila ingin menghilangkan trauma tikus alias Mansur. Serahkan saja tugas memasak makan pagi, siang dan malam anda, Snack juga tentunya pada Mansur.
Parental advisory, Cerita ini tolong jangan disebar luaskan pada ManSur dan sahabat-sahabatnya. Dikhawatirkan akan menimbulkan Efek Revolusi MansurRia di negara ini mengalahkan dahsyatnya revolusi Prancis dan revolusi indonesia pada zaman Orde lama sampai orde baru.
Seandainya tulisan ini sampai ke tangan Mansur, penulis berharap Mansur menjalankan Revolusi yang berujung reformasi dengan sebaik-baiknya. Tanpa anarkis, tapi menjadikan reformasi itu sebagai seni berkarya dengan bebas tapi tetap dalam koridor norma yang telah ada, sehingga tidak menjadikan reformasi ini sebagai reformasi yang kebablasan (apan sihhh???? Penting gitu mbahas ginian?)
Mansur, lanjutkanlah aksimu di dapur,ruang makan, dan bawah tempat tidurku. Tolong jangan mengganggu dan menimbulkan penyakit karena sesama makhluk Tuhan dilarang saling mendahului (emangnya lalu lintas?)
Sekian saja cerita hari ini.
Have a nice day semuaaa!!!
Ps: Makan kemana kita ntar lagiii??? Oya, udah pernah baca peniup seruling dari Hammelin belum? Itu cerita bagusss dan mantaaap tap tap tap!s
